Mari Berbagi !!!


Minggu, 21 Maret 2010

Model pembelajaran siklus (Learning Cycle)

I. Tinjauan Pustaka
1. Pengertian Balajar
Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannnya. (Slameto, 2003:2)
Menurut Skinner (dalam Sagala, 2003:14), belajar adalah suatu proses adaptasi atau penyesuaian tingkah laku yang berlangsung secara progresif sehingga terjadi respon.
Sedangkan menurut Gagne (dalam sagala, 2003:13) belajar merupakan kegiatan yang kompleks yang dan hasil belajar merupakan kapabilitas yang disebabkan stimulus yang berasal dari lingkungan dan proses kognitif yang dilakukan oleh pelajar.
Berdasarkan definisi-definisi belajar di atas dapat disimpulkan bahwa belajar merupakan suatu kegiatan yang dilakuakan seseorang untuk memperoleh pengetahuan dan keterampilan sehingga menghasilkan perubahan tingakah laku yang relatif menetap sebagai hasil pengalaman dan interaksi dengan lingkungannya.

1.1 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Belajar
menurut slameto (2003:54) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi belajar, yaitu :
a. Faktor Intern
Faktor intern adalah faktor yang berasal dari dalam diri individu yang sedang belajar, yaiutu :
1. Faktor jasmaniah, yang meliputi kesehatan dan cacat tubuh
2. Faktor psikologis, yang mliputi inteligensi, perhatian, minat, bakat, motif, kematangan, dan kesiapan.
3. Faktor kelelahan yaitu jasmani yang berupa lemahnya tubuh dan timbulnya kecenderungan untuk membaringkan tubuh dan kelelahan rohani yang dapat dilihat dengan adanya kelesuan rohani yang dapat dilihat dengan adanya kelesuan dan kebosanan sehingga minat dan dorongan untuk menghasilkan sesuatu itu hilang.



b. Faktor Ekstern
1. Faktor keluarga, yang meliputi cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah, keadaan ekonomi kelarga, perhatian dari orang tua dan latar belakang kebudayaan.
2. Faktor sekolah, yang meliputi metode mengajar, kurikulum, relasi guru dengan siswa, relasi siswa dengan siswa, disiplin sekolah, alat pelajaran, waktu sekolah, standar pelajaran di atas ukuran, keadaan gedung, metode belajar, dan tugas rumah.
3. Faktor masyarakat, yang meliputi kegiatan siswa di dalam masyarakat, media massa, teman bergaul, dan bentuk kehidupan masyarakat.

Model pembelajaran
Model dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang digunakan sebagai pedoman dalam melakukan kegiatan (Sagala, 2003:175). Model pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang mendeskripsikan dan melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar dan pembelajaran untuk mencapai tujuan belajar tertentu,dan berfungsi sebagai pedoman bagi perencanaan pengajaran bagi para guru dalam melaksanakan aktivitas pembelajaran (sagala, 2003:176).
Menurut Jihad (2008:2005) model pembelajaran adalah suatu rencana atau pola yang digunakan dalam menyusun kurikulum, mengatur materi belajar siswa, dan member petunjuk kepada pengajar di kelas dalam setting pembelajaran atau setting lainnya.
Model pembelajaran memiliki cirri-ciri khusus, yaitu :
a. Rasional teoritik yang logis yang disusun oleh penciptanya.
b. Tujuan pembelajaran yang akan dicapainya.
c. Tingkah laku mengajar yang diperlukan agar model tersebut dapat berhasil dilaksanakan,.
d. Ligkungan belajar yang diperlukan agar tujuan pembelajran itu dapat tercapai.
Model menurut Dorin (dalam Yulaelawati, 2004:49-50) merupakan suatu gambaran mental yang membantu kita untuk menjelaskan sesuatu dengan lebih jelas terhadap sesuatu yang tidak dapat dilihat atau dialami secara langsung.
Model pembelajaran menurut Syah (1996:189) adalah blue print (cetak biru) mengajar yang direkayasa sedemikian rupa untuk mencapai tujuan tertentu pengajaran, cetak biru ini lazim dijadian pedoman pelaksanaan pengajaran serta evaluasi pengajaran, atau soal bagaimana teknisinya sesuatu bahan pelajaran diberikan kepada siswa di sekolah (Surakhman dalam Suryosubroto, 2002:148).
Dari beberapa pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran merupakan pola pembelajaran yang dapat membantu guru dalam mengesahkan kemampuan dan keterampilan yang berkaitan dengan dengan upaya mengubah tingkah laku siswa sejalan dengan rencana yang telah ditetapkan. Melalui model pembelajaran diharapkan dapat berperan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran baik selama proses maupun di luar kegiatan belajar mengajar.


Model pembelajaran learnig cycle (siklus belajar)
Pembelajaran siklus merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivis. Model pembelajaran siklus pertama kali diperkenalkan oleh Robert karplus dalam science curriculum improvement study/SCIS (Throwbridge & Bybee 1996). Siklus belajar merupakan salah satu model pembelajaran dengan pendekatan kontruktivis yang pada mulanya terdiri atas tiga tahap, yaitu :
1. Eksplorasi (exploration)
2. Pengenalan konsep (concept introdutin), dan
3. Penerapan konsep.
Pada penerapan selanjutnya, tiga tahap siklus tersebut mengalami perkembangan. Tiga siklus tersebut kini dikembangkan menjadi lima tahap (lorsbach, 2002) yang terdiri atas tahap pembangkitan minat (engagement), eksplorasi (exploration), penjelasan (explanation), elaborasi (elaboration), dan evaluasi (evaluation).
Tahap pembelajaran siklus (learning cycle)

1. Pembengkitan Minat (Engagement)
Tahap pembengkitan minat merupakan tahap awal dari siklus belajar. Pada tahap ini guru berusaha membangkitkan dan mengembangkan minat dan keingitahuan siswa tentang topik yang akan diajarkan. Hal ini dilakuakan dengan mengajukan pertanyaan tentang topik faktual dalam kehidupan sehari-hari (yang berhubungan dengan topik bahasan). Dengan demikian siswa akan memberikan respon/jawaban, kemudian jawaban siswa tersebut dapat dijadikan pijakan oleh guru untuk mengetahui pengatahuan awal siswa tentang pokok bahasan. Kemudian guru perlu melakukan identifikasi ada tidaknya kesalahan konsep pada siswa. Pada fase ini juga siswa diajak untuk membuat prediksi-prediksi tentang fenomena yang akan depelajari dan dibuktikan dalam tahap eksplorasi. Dalam hal ini guru harus membangun keterkaitan antara pengalaman keseharian siswa dengan topik pembelajaran yang akan dibahas.

2. Eksplorasi (Exploration)
Pada tahap eksplorasi dibentuk kelompok-kelompok kecil antara 2-4 siswa. kemudian diberi kesempatan untuk bekerja sama dalam kelompok kecil tanpa pembelajaran langsung dari guru untuk melakukan dan mencatat ide-ide melalui kegiatan-kegiatan praktikum atau telaah literatur. Pada tahap ini guru bertindak sebagai fasilitator dan motivator. Pada dasarnya tujuan tahap ini adalah mengecek pengetahuan yang dimiliki siswa apakah sudah benar, masih salah, atau mungkin sebagian salah, sebagian benar.

3. Penjelasan (Explanation)
Pada tahap ini guru dituntut mendorong siswa untuk menjelaskan suatu konsep dengan kalimat/ pemikiran sendiri, meminta bukti dan klarifikasi atas penjelasan siswa, dan saling mendengar secara kritis penjelasan antar siswa atau guru serta mengatur jalannya diskusi. Dengan adanya diskusi tersebut, guru memberi definisi dan penjelasan tentang konsep yang dibahas, dengan memakai penjelasan siswa terdahulu sebagai dasar diskusi sehingga siswa dapat menemukan istilah-istilah dan konsep yang dipelajari.

4. Penerapan Konsep (Elaborasi)
Penerapan merupakan kemampuan untuk menerakan suatu kaidah atau metode untuk menyelesaikan masalah kehidupan yang nyata pada kasus atau problem yang kongkrit dan baru (Sri Esti Wuryani, 2006:212).
Konsep adalah satuan arti yang mewakili sejumlah objek yang mempunyai cirri-ciri yang sama. Konsep dapat dilambangkan dalam bentuk kata yang mewakili konsep itu. Pada tahap elaborasi siswa menerapkan konsep dan keterampilan yag telah dipelajari dalam situasi baru atau konteks yang berbeda. Dengan demikian, siswa akan dapat belajar secara bermakna, karena telah dapat menerapkan/ mengaplikasikan konsep yang baru dipelajarinya. Jika tahap ini dapat dirancang dengan baik oleh guru maka motivasi belajar siswa akan meningkat. Meningkatnya motivasi belajar siswa tentu dapat mendorong peningkatan hasil belajar siswa.

5. Evaluasi
Evaluasi merupakan tahap akhir dari siklus belajar. Pada tahap evaluasi, guru dapat mengamati pengetahuan atau pemahamana siswa dalam menerapkan konsep baru. Siswa dapat melakukan evaluasi diri dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan mencari jawaban yang menggunakan observasi, bukti, atau penjelasan yang diperoleh sebelumnya. Hasil evaluasi ini dapat dijadikan sebagai bahan evaluasi proses penerapan siklus belajar, apakah berjalan cukup baik, baik, atau masih kurang.

Tidak ada komentar: